Kota ini, kota kecil yang dipenuhi sejuta lima cerita. Katanya kota nostalgia, kota bersejarah, kota yang cocok untuk jalan santai. Tapi coba lihat realitasnya: 100 meter ke warung gorengan pun, motor dinyalakan. Kalau bisa, masuk dapur bawa motor juga sekalian.
Dulu, jalan kaki itu bagian dari hidup. Mau ke pasar jalan kaki. Pergi ke sawah jalan kaki. Pergi ke sekolah juga jalan kaki. Bahkan main ke rumah tetangga pun cukup dengan kaki sendiri. Sekarang? Jalan kaki dianggap prestasi luar biasa. Jalan kaki jadi barang langka, bahkan dianggap olahraga berat. Saking jarangnya, orang jogging pun ke lapangan naik motor. Jadi, keringatnya bukan keluar saat lari, tapi pas rebutan parkir.
“Bro, warung depan rumah buka gak ya?”
“Buka. Ayo naik motor.”
“Lho, depan rumah lho!”
“Justru itu, sekalian memanasi mesin motor.”
Begitu kira-kira mini dialog yang makin sering kita dengar. Ironis, kaki yang dulu jadi sahabat sehari-hari kini seperti barang antik: hanya dipakai kalau terpaksa.
Ironi paling kocak, orang berangkat jogging pun sekarang butuh transportasi. Bayangkan, orang ingin olahraga, tapi berangkat ke lapangan naik motor dulu, muter 2 km, baru lari setengah putaran. Pulangnya, naik motor lagi. Alhasil, bensin yang terbakar lebih banyak daripada kalori yang hilang. Mestinya cukup buka pintu rumah, melangkah, lalu mulai lari kecil, kan?
Dulu pula, orang mau makan bakso mesti keluar rumah, jalan kaki menuju warung bakso, ketemu banyak orang, bicara dan ketawa bareng orang lain. Sekarang? Tinggal pesan online dari tempat tidur. Nggak ada keringat, nggak ada obrolan, bahkan rela bayar ongkir lebih mahal daripada harga es teh di warung.
Punya kaki, tapi diparkir. Jalan dekat, tapi dipikir. Mager meraja, keringat tersingkir. Asap motor pun jadi zikir.
Seorang pemuda tertangkap kamera, naik motor sejauh 53 meter hanya untuk beli segelas es teh.
Reporter di lapangan melaporkan: “Tersangka beralasan, kalau jalan kaki, nanti sandal jadi kotor.”
Polisi lalu lintas hanya bisa geleng-geleng sambil mencari helm ukuran hati nurani.
Budaya mager tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh subur bersama kemajuan teknologi yang katanya ingin memudahkan hidup, tapi sering justru memanjakan malas. Semua serba instan: belanja tinggal klik, makan tinggal pesan, komunikasi tinggal ketik emoji. Akibatnya, gerakan tubuh yang dulu menjadi bagian alami kehidupan-jalan, angkat, angkut-perlahan tergantikan oleh tombol di layar ponsel.
Kendaraan bermotor sebenarnya solusi, tapi berubah jadi candu. Harga kredit yang mudah, bensin yang relatif terjangkau, dan gengsi punya roda dua atau empat, membuat orang enggan lagi pakai kaki. Trotoar jadi sepi, sementara parkiran supermarket sampai tumpah ruah. Ironinya, kadang jarak yang ditempuh motor itu lebih singkat daripada waktu parkirnya. Tapi toh, tetap motor yang menang, bukan kaki.
Mager tidak hanya mengikis keringat, tapi juga mengikis interaksi sosial. Dulu, belanja di pasar berarti ngobrol, bercanda, tawar-menawar. Sekarang, semua diganti dengan notif: “Pesanan Anda sudah diterima driver.” Hubungan manusia bergeser dari tatap mata ke tatap layar. Dan kesehatan? Jangan tanya. Obesitas, penyakit jantung, hingga stres karena kurang bergerak, semua jadi paket lengkap dari budaya mager.
Budaya mager ini bukan sekadar malas jalan.
Ini soal mentalitas: lebih rela macet di parkiran daripada jalan 3 menit. Lebih suka klakson ketimbang sapa-tangan. Lebih suka asap motor ketimbang aroma tanah selepas hujan.
Nenek moyang kita dulu jalan kaki puluhan kilometer merebut kemerdekaan.
Cucu-cucunya sekarang berebut diskon kopi susu… dengan naik motor sampai pintu kafe.
Mungkin suatu hari akan ada kursus resmi:
“Cara Jalan Kaki Tanpa Merasa Repot.”
Lucu? Ya. Ironis? Lebih iya lagi.
Jadi, kapan terakhir kali kamu jalan kaki tanpa alasan “olahraga”? Kalau nggak ingat, mungkin saatnya tanya ke diri sendiri: “Kaki ini masih buat jalan, atau cuma buat memasukkan gigi perseneling dan injak rem?”
Pada akhirnya pula, kota ini penuh jalan, tapi bukan untuk kaki.
Penuh trotoar, tapi jadi tempat parkir.
Kaki hanya jadi aksesori tubuh, sementara motor jadi kaki kedua.
Apakah kita benar-benar sudah merdeka…
atau hanya jadi budak mager bermesin bensin?
Pak Dhe,
catatan senja dari bangku Teras belakang terminal.